Laporan Hasil Praktikum Pemeriksaan Shigella
Mata Kuliah : Penyehatan
Makanan Minuman-A (PMM-A)
Dosen :
Khiki Purnawati Kasim, SST., M.Kes
LAPORAN HASIL
PRAKTIKUM
PEMERIKSAAN SHIGELLA
DISUSUN OLEH :
IRANA DEWI MARJUNI
P0. 71.4.221.15.1.018
TINGKAT II.A
KELOMPOK 3
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D.IV
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT,
karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Laporan
Hasil Praktikum Pemeriksaan Shigella”.
Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Penyehatan Makanan dan Minuman-A
(PMM-A).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya.
Makalah laporan ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan
informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan
bagi kita semua.
Makassar, Juni 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
B. TUJUAN
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
BAB
III METODE PRAKTIKUM
A. ALAT
DAN BAHAN
B. PROSEDUR KERJA
BAB
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
B. PEMBAHASAN
BAB
V PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makanan jajanan
adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat
penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum
selain yang disajikan oleh jasa boga, rumah makan atau restoran, dan (Depkes,
2003). Makanan jajanan ini masih mengandung resiko yang cukup potensial
menyebabkan terjadinya penyakit atau ganguan kesehatan. Oleh karena itu,
makanan jajanan yang kita konsumsi haruslah terjaga kebersihannya.
Agar makanan
dapat berfungsi sebagaimana mestinya maka perlu diperhatikan kualitas makanan
melalui ketersediaan zat-zat gizi yang terkandung didalamnya dan bebas dari
cemaran mikroba. Makanan yang terkontaminasi oleh mikroorganisme akan
mengakibatkan gangguan kesehatan karena mikroorganisme tersebut dapat
memproduksi racun yang dapat menyebabkan timbulnya suatu penyakit (Mulia,
2005).
Makanan yang
terkontaminasi dapat disebabkan oleh hygiene sanitasi makanan yang tidak
memenuhi syarat kesehatan. Untuk mendapatkan makanan dan minuman yang memenuhi
syarat kesehatan maka perlu diadakan pengawasan terhadap hygiene sanitasi
makanan dan minuman yang diutamakan pada usaha yang bersifat umum seperti
restoran, rumah makan, ataupun pedagang kaki lima mengingat bahwa makanan dan
minuman merupakan media yang potensial dalam penyebaran penyakit (Depkes RI,
2004).
B. Tujuan
1.
Mahasiswa dapat
mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan Shigella.
2.
Mahasiswa dapat
melakuan pemeriksaan Shigella
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Shigella adalah
genus Gram-negatif, terkait erat dengan bakteri Escherichia coli dan
Salmonella. Kausatif dengan shigellosis pada manusia, Shigella menyebabkan
penyakit padaprimata, tetapi tidak pada binatang menyusui lainnya. Penyakit ini
dapat digolongkan sebagai penyakit IMS jika melibatkan lidah (bibir) dan
anus.
Infeksi
Shigella biasanya melalui proses menelan (kontaminasi fecal-oral); tergantung
pada umur dan kondisi tuan rumah, hanya diperlukan sepuluh sel bakteri untuk
dapat menyebabkan infeksi. Proses menelan ada yang melalui makanan/minuman yang
terkontaminasi bakteri atau melalui teknik seksual tertentu yang melibatkan
lidah dan anus.
Shigella yang
menyebabkan disentri adalah hasil pemusnahan sel-sel epithelial pada
mucosa usus di cecum dan dubur. Beberapa strain memproduksi racun enterotoxin
dan Shiga, mirip dengan verotoxin pada E. coli. Racun Shiga dan verotoxin
terkait dengan munculnya sindrom hemolytic uremic (penyakit yang ditandai anemia
hemolytic, kegagalan ginjal akut (uremia) dan jumlah platelet yang rendah
(thrombocytopenia).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
Alat
·
Tabung reaksi
·
Gelas ukur
·
Pipet ukur
·
Petridish
·
Beaker glass
·
Tabung durham
·
Incubator
·
Autoclave
·
Lampu spritus
·
Balp
·
Ose
Bahan
·
SS agar
·
EMB agar
·
MC agar
·
Endo agar
·
TSIA
·
SIM
·
Simmon’s citrate
B. Prosedur Kerja
1.
Hari I
·
Timbang sampel
makanan dan minuman masing-masing sebanyak 10 gram.
·
Blender air pepton
sebanyak 90 gram.
·
Ambil sampel 1-2
mata ose, lalu masukkan ke dalam SS agar dengan metode zig-zag 4 kuadrat.
·
Eramkan dengan suhu
37˚C selama 1 x 24 jam.
2.
Hari ke-II
·
Amati perubahannya
jika goresan kecil-kecil, tidak berwarna, jernih, smooth maka dinyatakan
positif.
·
Kemudian, ambil 1-2
mata ose tanam pada media TSIA dengan cara zig-zag dan tusuk sampai ke dasar.
·
Eramkan dengan suhu
37˚C selama 1 x 24 jam.
3.
Hari ke-III
·
Jika positif ada
tanda berwarna kuning pada media TSIA.
·
Pertumbuhan yang
sama pada daftar tersebut dikerjakan slide agglutinasi dengan sera diagnostika.
Kemudian dari koloni TSIA baik yang tersangka golongan shigella maupun yang
tidak tersangka ditanam pada media gula-gula dan agar-agar.
·
Eramkan dengan suhu
37˚C selama 1 x 24 jam.
4.
Hari ke-IV
Amati pertumbuhan pada media
gula-gula dan cocokkan dengan daftar media gula-gula.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil setelah
pemeriksaan hari pertama
Makanan : negatif
Makanan : negatif
Pada media SS agar
tetap berwarna, tidak jernih, dan tidak kecil-kecil
B. Pembahasan
Pada
pemeriksaan shigella menggunakan media SS agar pemeriksaan hasil pertama
negatif makanan dan juga minuman. Shigella adalah bakteri patogen usus yang
dikenal sebagai agen penyebab penyakit disentri basiler. Rendahnya sanitasi,
pasokan air yang buruk yang menyebabkan peningkatan resiko infeksi. Penyebaran
shigella melalui manusia ke manusia lain, dimana karier merupakan reservoir
kuman. Dari shigella disebarkan oleh lalat, juga melalui buangan yang kotor,
makanan yang terkontaminasi, tinja, serta barang-barang yang terkontaminasi ke
orang lain yang sehat.
Dilihat
dari kondisi lingkungan pengambilan sampel empek-empek dan marimas cukup bersih
dan menjaga lingkungannya yang menyebabkan tidak adanya lalat yang dapat
mengontaminasi makanan dan minuman.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil yang didapatkan tidak adanya bakteri shigella (negatif) pada makanan dan minuman. Hal ini dipengaruhi
karena lingkungan yang bersih dan faktor pendukung pada pengolahan makanan dan
minuman yang baik.
B. Saran
Untuk
mencapai hasil yang baik perlu dilakukan pengolahan yang baik dan benar, serta
terhindarnya dari hal-hal yang dapat mengontaminasi pada saat pengolahan
makanan maupun minuman.
Komentar
Posting Komentar